BerandaBERITASERUAN KABAN DARI MASJID ITAEWON SEOUL: Tanam Pohon, Bahkan Meski Esok Kiamat

SERUAN KABAN DARI MASJID ITAEWON SEOUL: Tanam Pohon, Bahkan Meski Esok Kiamat

Loading

sisipandang.com – Udara musim gugur Seoul menyambut MS Kaban pada Rabu (14/10). Menteri Kehutanan RI 2004-2009 itu baru tiba di Negeri Ginseng, dengan jadwal padat yang sudah menunggu.

Pada 14-18 Oktober 2026, ia memenuhi undangan Kangwon University untuk membahas perkembangan pengelolaan hutan dan penanganan laju emisi karbon di Indonesia maupun di Korea Selatan. Lima hari diskusi, pertemuan, dan tukar pikiran. Namun di tengah padatnya agenda, ada satu tempat yang lebih dulu ia sempatkan untuk dikunjungi.

Singgah untuk Bersujud
Begitu tiba, MS Kaban dan rombongan menyempatkan diri berkunjung dan menunaikan sholat di Masjid Central Seoul, di kawasan Itaewon.

Baca Juga : Ada Apa Korea Undang MS Kaban, Bukan Menhut Saat Ini?

Memang bagi orang Muslim yang bepergian jauh, mencari masjid adalah naluri. Di kota yang jauh dari tanah air, masjid menjadi tempat berteduh dari hiruk-pikuk jadwal sekaligus tempat bertemu saudara seiman.

“Ya, kunjungan ke negeri manapun, masjid tetap menjadi prioritas di kesempatan pertama,” ujar mantan Menteri Kehutanan era pertama SBY itu dengan wajah sumringah.

Ternyata, dalam pandangan MS Kaban, masjid lebih dari sekedar tempat ibadah ritual semata. Ia menegaskan bahwa ajaran Islam yang disampaikan di masjid manapun tetap menjadi sumber inspirasi bagi semua orang untuk merawat hutan dan alam.

“Ajaran Islam menempatkan pemeliharaan kelestarian alam sebagai kewajiban semua manusia, bukan sekadar urusan kebijakan negara atau proyek bisnis,” tegasnya.

Untuk menguatkan pandangannya, MS Kaban mengutip hadis Nabi Muhammad SAW: jika besok kiamat, sementara di tanganmu ada biji kurma, maka tanamlah.

Pesan hadis itu sederhana, tetapi radikal. Bahkan di detik-detik terakhir kehidupan dunia, menanam disebutnya tetap bernilai ibadah dan harapan bagi manusia.

Dari situ, MS Kaban menarik benang merah ke persoalan hari ini. Menanam pohon adalah pondasi penting dalam pengelolaan hutan dan alam. Menanam juga menjadi ikhtiar mengimbangi laju emisi karbon yang nyaris tak bisa dibendung di belahan dunia mana pun.

Pesan itu terasa tepat dengan agenda yang menantinya di Kangwon University. Dari masjid di Itaewon sampai ruang diskusi kampus, benang merahnya sama: alam adalah amanah yang harus dijaga.

Masjid Pertama di Negeri Ginseng
Masjid Central Itaewon bukan masjid biasa, ada sejumlah fakta menarik: menjadi masjid pertama di Korea Selatan yang diresmikan pada 1976. Perkembangan berikutnya praktis masjid ini menjadi simbol awal kehadiran komunitas Muslim yang terorganisasi di negeri itu.

Masjid ini berdiri di atas bukit di Itaewon. Lokasinya persis di tanjakan kawasan yang dikenal paling kosmopolit di kota Seoul. Alhasil kubah dan menara masjidnya pun menjadi menonjol di antara bangunan modern di sekitarnya. Sejarah mencatat pembangunannya tidak lepas dari bantuan negara-negara Muslim, sementara lahannya disebut diberikan pemerintah Korea Selatan kala itu.

Kawasan masjid ini praktis menjadi magnet bagi wisatawan Muslim. Di sekitar masjid terdapat deretan restoran halal dan toko yang menjadi rujukan pelancong Muslim, termasuk dari Indonesia.

Disebutkan jejak komunitas muslim disini berakar dari kisah Perang Korea. Pengenalan Islam di Korea kerap dikaitkan dengan tentara Turki yang bertugas pada Perang Korea (1950-1953) dan berdakwah di sela masa tugasnya.

Dua Agenda, Satu Pesan
Perjalanan MS Kaban ke Seoul memperlihatkan dua sisi yang saling menguatkan. Di satu sisi ada agenda serius tentang masa depan hutan dan iklim. Di sisi lain ada momen tenang di rumah ibadah, tempat ia menemukan pesan yang sama.

Di Kangwoon University, tata kelola hutan dan pengendalian emisi karbon menanti. Di Itaewon, pesan itu sudah lebih dulu diucapkan: tanam, selagi masih bisa menanam. | Laporan Hamdan Husein

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments