![]()
CHUNCHEON, sisipandang.com – Jumat (16/10/2026) – Sebelas lapangan sepak bola setiap menit. Itulah kecepatan dunia kehilangan hutan primer tropisnya sepanjang 2025. Angka itu diletakkan Dr. H. Malem Sambat Kaban di hadapan para guru besar dan perwakilan Pemerintah Korea Selatan di Kangwon National University, kampus yang pada 2007 menganugerahinya gelar Doktor Honoris Causa.
Mengutip analisis World Resources Institute dan University of Maryland, mantan Menteri Kehutanan RI itu menyebut dunia kehilangan sekitar 4,3 juta hektare hutan primer tropis tahun lalu. Memang turun dari rekor suram 2024. Tetapi masih 46 persen lebih tinggi dibanding satu dekade silam. Sejak 2000, sekitar 87 juta hektare hutan primer lembap tropis telah lenyap.
“Jangan baca ini sebagai angka dalam laporan statistik,” kata Kaban.
Di balik tiap hektare yang hilang, ujarnya, ada karbon yang terlepas, keanekaragaman hayati yang mungkin tak kembali utuh, daerah aliran sungai yang makin rapuh, dan warga yang hidupnya ikut terguncang.
Baca juga : BOCOR..! Ini Dia Agenda MS Kaban di Korea Selatan
Korea Pernah Hancur, Lalu Memilih Bangkit
Dari fakta itu Kaban menarik kesimpulan yang tegas: pelestarian dan pemulihan hutan tak bisa lagi diperlakukan sebagai urusan satu sektor. Ia harus menjadi bagian dari jawaban atas krisis iklim, kepunahan hayati, krisis air, dan pembangunan berkelanjutan.
Buktinya, kata Kaban ada di tanah tuan rumah. Usai Perang Korea, hutan negeri itu rusak parah. Kepemimpinan pemerintah yang kuat, kebijakan yang konsisten puluhan tahun, teknologi, partisipasi warga, dan komitmen publik yang tak surut mengubahnya menjadi bentang alam hijau. Dunia mengakuinya: pada 2025, Korea Reforestation Archives masuk Daftar Memori Dunia UNESCO.
Di seberangnya berdiri Indonesia, pemilik salah satu bentang hutan tropis terkaya di bumi: hutan hujan dataran rendah, gambut, mangrove, hingga hutan pegunungan. Satu negara membuktikan hutan yang rusak bisa dipulihkan. Satu lagi memegang “laboratorium hidup” hutan tropis, tetapi masih bergulat menahan kehilangannya.
Baca Juga : Ada Apa Korea Undang MS Kaban, Bukan Menhut Saat Ini?
Jangan Berhenti di Seminar
Perbedaan itu, kata Kaban, bukan hambatan. Itu modal. Korea punya pengalaman restorasi, teknologi kehutanan, pemantauan, dan kelembagaan. Indonesia punya bentang alam untuk riset, inovasi, dan belajar langsung di lapangan.
Karena itu ia menolak kerja sama yang berhenti di ruang seminar. Yang ia minta: riset bersama, pertukaran mahasiswa, sekolah lapangan, pembimbingan bersama mahasiswa pascasarjana, laboratorium bersama, dan berbagi data. Universitas, tegasnya, bukan sekadar penghasil pengetahuan, melainkan pencetak generasi pengelola hutan, peneliti, pembuat kebijakan, dan pemimpin konservasi.
Fondasinya sudah ada, kata dia: Hambalang, Jawa Barat. Kerja sama kedua negara untuk kawasan itu telah berjalan lebih dari sembilan tahun, berangkat dari gagasan International Center for Tropical Forest Study, tempat mahasiswa Korea belajar hutan tropis dan orang Indonesia menimba teknologi silvikultur dan bioscience dari Korea.
Kini ia ingin Hambalang naik kelas menjadi pusat pendidikan dan riset hutan tropis berbasis lapangan, mencakup hutan tropis, mangrove, gambut, restorasi, dan perubahan iklim.
“Ia bisa menjadi lebih dari sekadar fasilitas fisik. Ia bisa menjadi jembatan,” ujarnya.
Bisnis Boleh, Hutan Jangan Digadaikan
Kaban juga mendorong Korea–Indonesia Forest Forum dihidupkan kembali, tidak hanya untuk konservasi, tetapi juga bisnis, investasi, dan pendidikan. Agendanya mencakup biomassa berkelanjutan, hutan tanaman industri, penyerapan karbon dan perdagangan karbon, serta pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (MRV).
Namun ia memasang rambu. Investasi harus selaras dengan kebijakan nasional, pengamanan lingkungan, target keanekaragaman hayati, dan hak masyarakat. Ekonomi dan konservasi, katanya, bukan dua kutub yang saling meniadakan. Tantangan sesungguhnya adalah membangun usaha berbasis hutan yang tetap produktif tanpa menggerus fungsi ekologisnya dan tetap memberi manfaat bagi warga setempat. Hutan, tegasnya, bukan sekadar komoditas, melainkan modal alam jangka panjang dan barang publik global.
Melampaui Siklus Politik
Perubahan iklim, kata Kaban, telah mengubah wajah pengelolaan hutan. Hutan bukan lagi sekadar korban, tetapi bagian dari solusi berbasis alam, sementara pada saat yang sama kian rentan terhadap kekeringan, kebakaran, hama, dan cuaca ekstrem. Hutan masa depan harus cerdas iklim sekaligus tangguh iklim.
Semua itu menuntut pengetahuan baru, teknologi baru, pemantauan dan MRV yang lebih baik, serta pendanaan inovatif. Lalu ia menutup dengan syarat yang paling menohok: kerja sama yang mampu bertahan melampaui proyek-proyek individual dan siklus politik.
Itulah inti seruannya. Dari kerja sama berbasis proyek menuju kemitraan pengetahuan dan inovasi jangka panjang, lewat tiga langkah konkret:
Pertama, memperkuat Korea–Indonesia Forest Forum sebagai platform dialog, kebijakan, sains, investasi, dan inovasi jangka panjang.
Kedua, mengembangkan Hambalang sebagai pusat pendidikan dan riset hutan tropis yang menghubungkan universitas, pemerintah, pengelola hutan, masyarakat, dan mitra internasional.
Ketiga, membangun program riset dan pendidikan bersama generasi baru, mulai dari restorasi, pengelolaan hutan lestari, keanekaragaman hayati, mitigasi dan adaptasi iklim, biomassa, MRV, pengendalian kebakaran hutan, hingga hutan berbasis masyarakat.
Hutan tumbuh dalam hitungan dekade. Anggaran, menteri, dan pemerintahan berganti dalam hitungan tahun. Di jurang itulah, kata Kaban, banyak upaya menyelamatkan hutan kandas. Tugas kita adalah mewariskan hutan yang lebih tangguh, lebih produktif, lebih beragam, dan lebih terlindungi daripada yang kita terima. Masa depan hutan tropis adalah tanggung jawab bersama.
“Hutan yang kita kelola hari ini akan menentukan iklim, air, dan penghidupan generasi yang mungkin tak pernah kita temui,” tutupnya. | Laporan Hamdan Husein



Recent Comments