BerandaBERITATOKOH KRITIS BERKUMPUL: Kenang 40 Hari Kepulangan Bachtiar Chamsyah

TOKOH KRITIS BERKUMPUL: Kenang 40 Hari Kepulangan Bachtiar Chamsyah

Loading

Jakarta – sisipandang.com – Malam itu, Ahad (1/11), sebuah rumah di kawasan Tanjung Mas, Jakarta Selatan, dipenuhi doa. Tidak ada panggung, tidak ada pidato seremonial. Yang ada hanya orang-orang yang datang dari berbagai arah, dari partai yang berbeda dan profesi yang tak sama, untuk satu tujuan: mengenang seorang guru, senior, sekaligus sahabat yang sudah 40 hari berpulang.

Rumah itu milik Muhammad Iqbal, putra sulung almarhum Dr. H. Bachtiar Chamsyah. Di sanalah para tokoh berkumpul untuk mendoakan mantan Menteri Sosial yang juga pernah memimpin Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai ketua umum.

Di antara yang hadir tampak Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Ahmad Doli Kurnia Tanjung dan Anggota Badan Pelaksana Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Amri Yusuf. Hadir pula mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, mantan juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Adhie Massardi, dan mantan Menteri Kehutanan MS Kaban, bersama sejumlah tokoh nasional kritis lainnya.

Satu per satu, mereka bercerita tentang sosok yang membuat mereka berkumpul malam itu.

Menanam untuk Panen Enam Puluh Tahun

Giliran MS Kaban, ia memilih perumpamaan dari dunia yang paling ia kenal: hutan. Sebagai mantan Menteri Kehutanan, Kaban mengibaratkan Bachtiar Chamsyah seperti hutan di Finlandia. Untuk menyelamatkan industri kehutanannya, negara itu menanam pohon dalam jumlah besar, padahal hasilnya baru bisa dipanen 60 tahun kemudian.

“Begitu pula Bachtiar Chamsyah. Sejak lama beliau menyemai dan menanam kader-kader bangsa yang akan tumbuh menjadi tokoh-tokoh bangsa berpuluh tahun kemudian,” ujar Kaban.

Menurut Kaban, kerja menanam semacam itu tidak pernah mencari tepuk tangan. Hasilnya baru terlihat jauh di kemudian hari, ketika yang menanam mungkin sudah tak lagi ada.

Kaban lalu mengenang pesan seniornya di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu, pesan sederhana yang terus diulang hingga akhir hayat: “Kita harus terus ikut memperbaiki keadaan kehidupan bangsa dan negara.”

Guru Politik, Guru Spiritual

Suasana sedikit mencair ketika Gatot Nurmantyo mengambil giliran bicara. Mantan Panglima TNI yang kerap bersuara kritis terhadap kepemimpinan Presiden Joko Widodo itu tanpa ragu menyebut Bachtiar Chamsyah sebagai guru politik sekaligus guru spiritual.

Gatot mengaku, sebagai prajurit, dahulu ia masih awam di dunia politik. Bachtiar Chamsyah-lah yang perlahan mengisi pemahamannya tentang medan yang sama sekali berbeda dari barak dan garis komando itu.

“Kalau saya sekarang sering kebablasan, itu karena gurunya Pak Bachtiar Chamsyah,” ujarnya, disambut senyum para hadirin.

Kedekatan itu, kata Gatot, makin erat ketika ia mulai membangun Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) bersama almarhum Dr. Bachtiar Chamsyah dan Dr. MS Kaban. Dari ikhtiar bersama itulah ia mengenal almarhum dari dekat.

Jalan Aman dan Jalan Benar

Adhie Massardi, yang pernah menjadi juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid, menawarkan cara pandang lain. Menurutnya, dalam politik ada dua jalan: jalan aman dan jalan benar. Bachtiar Chamsyah, kata dia, memilih jalan yang kedua.

“Saya juga memilih jalan benar, jadi bisa ketemu,” kata Adhie, yang kembali memancing senyum hadirin.

Bagi Adhie, yang membuat sosok yang akrab disapa BC itu istimewa bukan sekadar pilihan jalannya. Ia adalah salah satu dari sedikit orang yang melaksanakan apa yang diucapkannya, sebuah kualitas yang kian langka di panggung politik.

Warisan yang Tumbuh Diam-diam

Malam itu, tidak ada kesimpulan resmi yang dirumuskan. Namun dari tiga kisah yang berbeda, benang merahnya terasa jelas: kader yang disemai, pesan yang ditanamkan, dan jalan yang dipilih dengan sadar. Seperti pohon-pohon di hutan Finlandia dalam perumpamaan Kaban, warisan Bachtiar Chamsyah tampaknya sedang tumbuh, diam-diam, di dalam diri orang-orang yang hadir.

Doa pun ditutup. Para tokoh berpamitan, meninggalkan rumah di Tanjung Mas itu dengan satu pesan yang sama: perbaikan bangsa adalah kerja panjang, dan kerja itu belum selesai. | Laporan bang HP

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments