BerandaBERITA80 TAHUN STII: Satu Pertanyaan Belum Terjawab

80 TAHUN STII: Satu Pertanyaan Belum Terjawab

Loading

JAKARTA, sisipandang.com – Delapan dekade adalah waktu yang cukup panjang untuk membangun lumbung. Ada pertanyaan yang menggantung di Gedung Menara Dakwah, Senin (26/10/2026), terdengar sederhana sekaligus tak nyaman: di mana titik-titik sentra produksi Syarikat Tani Islam Indonesia (STII)?

Pertanyaan itu bukan datang dari pihak luar. Ia keluar dari mulut MS Kaban, mantan Ketua Badan Kehormatan STII, di tengah peringatan 80 tahun organisasi itu di Jalan Kramat Raya, Jakarta. Acaranya khidmat, tapi justru pesannya yang menghentak.

Musuh Lama, Medan Baru
Kaban mengingatkan bahwa STII lahir dengan latar ideologis yang tegas: melawan komunisme. Menurutnya, zaman sudah bergeser, dan tantangan ikut berganti rupa. Yang kini mengintai lebih sunyi, tetapi tak kalah berbahaya: krisis pangan dunia.

“Zaman sudah berubah, mari kita kembali ke pertanian,” ujarnya.

Bagi Kaban, bicara pertanian berarti bicara lahan, komoditi, teknologi hingga kreatifitas. Karena itu, divisi-divisi di tubuh organisasi harus dipertajam agar bermuara pada satu tujuan: kekuatan pertanian Indonesia dalam menghadapi krisis pangan global. Organisasi, dalam bacaan ini, tidak boleh sekadar sibuk mengurus dirinya sendiri.

Hitung-hitungan Tiga Sendok Makan
Untuk menunjukkan besarnya taruhan, Kaban mengajak hadirin berhitung. Ia merujuk pada China dan India, dua negara yang bila digabung menampung sekitar sepertiga penduduk dunia.

Data mendukung hitungan itu. Estimasi Worldometer yang bersumber dari PBB menyebut penduduk India pada 2026 mencapai 1.476.625.576 jiwa, sementara China 1.412.914.089 jiwa. Bila dijumlahkan, keduanya sekitar 2,89 miliar jiwa, atau kurang lebih 35 persen penduduk bumi.

Kaban lalu melempar umpan: bagaimana jika setiap orang hanya mengonsumsi tiga sendok makan minyak makan per hari? Berapa kebutuhan dunia?

Ia tak menyebut angka akhirnya. Hadirin dibiarkan membayangkannya sendiri, dan bayangan itu cukup besar untuk membuat siapa pun terdiam.

“Ini tantangan sekaligus peluang,” katanya seraya menyebut sumber bahan minyak makan banyak ragamnya, salah satunya sawit. Bagi STII, kata Kaban, peluang itu menjadi sesuatu yang tidak boleh dilewatkan.

Pertanyaan Menohok
Setelah menyuguhkan angka-angka raksasa, Kaban menutup dengan pertanyaan yang langsung menyasar tuan rumah, jajaran para aktifis STII dari berbagai daerah yang berkumpul saat itu: di mana sentra-sentra produksi STII?

Dalam pidatonya, ia tidak menjawab pertanyaannya sendiri. Dan barangkali di situlah pesan terkuatnya. Pertanyaan semacam ini tidak bisa dijawab dengan sambutan atau dokumen sejarah, melainkan dengan lahan, panen, dan hasil yang bisa dihitung.

Kaban berharap STII tidak berhenti sebagai catatan sejarah. “STII harus menjadi kekuatan dunia,” tegasnya, seraya menyerukan agar pemerintah mana pun memberi dukungan.

Ujian Usia Delapan Dekade
Pesannya terang: usia 80 tahun tidak cukup dirayakan dengan nostalgia. Di tengah ancaman krisis pangan global, STII ditantang membuktikan diri, bukan lewat panjangnya sejarah, melainkan lewat produksi yang nyata.

Selama pertanyaan itu belum dijawab dengan kebun, lahan, dan hasil panen, perayaan 80 tahun STII ini baru separuh selesai. | Laporan Hadhy Priyono

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments